kesana kemari

dailylog.travellog.randomlog

3 notes

JavaCove Beach Hotel, Batukaras

National Geographic Traveler said “One of our favourite hotels in Indonesia”.

Sebagai orang yang cukup suka traveling, tagline iklan di atas langsung menarik minat saya untuk cari info lebih dalam tentang JavaCove Beach Hotel. Terletak di Batukaras, area yang awalnya saya pikir dekat dengan Garut-dan ternyata jauhnya polll-, JavaCove Beach Hotel menjadi salah satu pemberhentian saya di West Java Honeymoon Trip. Judulnya sih keren, tapi sebenarnya ini cuma jalan-jalan santai perdana berdua saja sama suami sebagai pelepas stres setelah acara pernikahan kami dua bulan yang lalu. hehehe..

Memasuki hotel ini, saya cukup impressed dengan sentuhan personal yang diberikan. Setiap kamar punya slot nama yang penghuni masing-masing kamar. 

Ketika itu sudah jam 8.30 malam sehingga saya tidak terlalu memperhatikan lobby atau restoran hotel. Perjalanan sekitar 8 jam dari Garut dengan selingan belanja sebentar di Rajapolah membuat saya terlalu rindu sama kasur.

Pemilik hotel ini seorang berkebangsaan Australia. Saya tidak paham gimana awalnya dia bisa bangun hotel yang manis ini di pedalaman Jawa Barat. Tapi yang jelas, dari fasihnya dia berbahasa Indonesia ketika mengarahkan tukang-tukang yang sedang membuat kolam renang, saya bisa tahu dia sudah lama disini, dan sudah lama pula jatuh cinta dengan tempat ini.

Tempat saya dan suami menginap di kamar Turtle. Kamar ini simple saja, menghadap ke laut dan terdiri dari teras, ruangan kamar, dan kamar mandi. Tempat tidur langsung menghadap ke pintu kaca dan jendela. Lantai kamar ini terbuat dari kayu. Cukup praktis mengurangi kesan kotor dari air laut dan pasir yang menempel di kaki-kaki setelah puas bermain di pantai.

Sebagai surf-hotel, hotel ini banyak sekali menyediakan fasilitas simple tapi sangat bermanfaat buat para surfer. Dinding pembatas teras dengan teras tetangga dan parapet di teras dilengkapi kayu untuk menjemur pakaian. Kamar mandi pun dilengkapi dengan tali penggantung baju, juga untuk menggantung pakaian yang basah setelah puas surfing di pantai. Deretan tempat surfboat juga salah satu yang menurut saya sangat unik di hotel ini.

Manis. Begitu kesan saya pada hotel ini. Simple dan selalu ada sentuhan personal di setiap desainnya. Oya, pemiliknya mendesain langsung tempat ini. Dia bukan arsitek, tapi yang jelas, dia sangat mendesain dengan hati :)

Rooftop pool. Buat turis-turis asing yang mau berjemur.

Di sebelah reception, disediakan tempat untuk menaruh papan surfing.

Namanya juga ke pantai yang terkenal karena ombak bagusnya untuk surfing, gak lupa kami ambil one day surf lesson yang berakhir dengan badan lecet-lecet kena pasir plus pegel-pegel, dan tetep gak bisa surfing. hahahaha…

Belajar surfing disini dikenakan biayan 150K rupiah sudah termasuk sewa surfboard seharian, sepuasnya.

Sekian cerita dari JavaCove Beach Hotel Batukaras. Menginap dua malam disini, saya jadi setuju dengan National Geographis Traveler, one of my favourite hotel in Indonesia.

0 notes

Ketika berkesempatan membeli satu set audio untuk di kamar, cd Float kemudian jadi yang paling sering diputar. Lagu ini mengingatkan saya akan rumah, pada seorang teman yang sama-sama suka band ini, walaupun menjagokan lagu yang berbeda, dan menjadi backsound saya ketika menunggu dia yang sedang pulang.

Pulang by Float

0 notes

Taken almost one year ago and I am now counting days to that special day with him :) :)

Taken almost one year ago and I am now counting days to that special day with him :) :)

3 notes

hello world..

hello world. i’m back to you again.

setelah empat bulan lebih gak menulis, here i am. menyadari terlalu termakan kesibukan ibukota. menyadari kurang memaksa diri menikmati enaknya jalan-jalan sepulang kantor. membiarkan rutinitas kerja-pulang-kerja-pulang menggerogoti waktu-waktu berharga beberapa bulan terakhir sampe rasanya bosaaaaaan banget.

beberapa waktu yang lalu saya bertemu teman lama di jogja. kata-kata yang keluar dari saya “bosen banget nih dha..hidup gw belakangan datar banget. ngantor pulang, jarang main. bosen”. dan komentar teman saya “ya ampun mel, lo kan mau nikah. apanya yang datar dari mau nikah coba”. yeah… i missed that thing karena kesibukan jakarta.

i’m engaged. since like a more than a month ago. hari besarnya insyaallah di pertengahan tahun nanti. cuma bisa bilang bismillah dan satu satu menyicil ini itu demi mengurangi kerempongan deket deket hari H. ada yang punya rekomendasi vendor foto yang bagus gak? *eh malah nanya nanya colongan*.hehehehe…

oke..jadi resolusi bulan ini adalah MAIN, BERSENANG-SENANG, dan MELAKUKAN HAL BARU. accidently gabung jadi member oriflame, pelihara kelinci bareng keluarga mba lina, n sudah terdaftar di lomba lari 5 kilo di Pondok Indah awal april nanti walopun udah pasti gak bakal masuk 50 besar dan abis itu pasti langsung lari ke tukang pijet refleksi.hehehehe… enjoy life!

1 note

oh my… ternyata saya sangat kangen bandung. i’m looking forward to move back here ;)

0 notes

Dari balik sangkar, saya memotret sedikit dari sekian banyak burung eksotis Indonesia. Foto-foto ini diambil di Taman Burung, Taman Mini Indonesia Indah, tempat yang menurut saya sangat sangat menarik dan semakin lama semakin tenggelam diantara makin banyaknya hiburan ‘modern’ untuk anak-anak.

Koleksinya tidak sebanyak di Kebun Binatang Ragunan, tapi disini burung-burung dirawat di kandang yang lebih layak dan lebih luas, bahkan dengan sangkar berbentuk dome raksasa. Hanya dengan 9000 rupiah (tiket masuk TMII) dan 13.000 rupiah (tiket masuk taman burung dan taman burung konservasi), kita dapat menikmati keaneka ragaman burung Indonesia…

Filed under traveling tamanburung 17agustus

2 notes

At very end of the day, it turned out that yesterday, which lasted one and half hour ago, was the last day for my day and night job.

Saya menyebutnya day job. Seperti namanya, saya bekerja di siang hari dari pk. 12.00 sampai sekitar pk. 18.00. Kantor siang saya berlokasi di daerah Puri Indah. Sebuah gudang ide arsitektur yang asiknya gak ada habisnya. Selalu ada yang baru di kantor ini. Seminggu sebelumnya pasang lampu baru, terus mezanin baru, terus pintu baru, terus cat tembok baru, setelahnya ada bedah buku, lalu nonton bareng, lalu… saya yakin daftar ini akan makin panjang dari hari ke hari.

Yang saya sayangkan, kenapa saya tidak sempat untuk sekali saja foto-foto. hehehe… oke, next time saya main ke DOT, saya jamin akan bawa kamera dan foto-foto sampe jumpalitan, koprol depan, terus kayang!

Sedangkan night job saya, merupakan pekerjaan yang, saya juga tidak habis pikir kok bisa-bisanya saya “kecemplung” di pekerjaan ini. Proofreader The Jakarta Post. Semuanya berawal dari kegigihan saya mencari pekerjaan, sampai tidak ada satupun iklan lowongan pekerjaan di situs portal lowongan kerja terkenal itu yang luput dari perhatian saya. Karena pernah beberapa kali terlibat dalam pembuatan majalah dan majalah dinding di sekolah dan kampus, saya pun memasukkan jurnalistik ke dalam bidang pekerjaan yang saya minati.

Voila! 

foto terakhir dengan kamera bb cupu sebelum nametag dikembalikan ke kantor :’(

Tahu-tahu saya sudah harus bekerja jam 8-12 malam, lima hari kerja seminggu, dan harus berkompromi dengan tim tentang siapa yang masuk dan libur hari ini supaya koran bisa terbit esok harinya tanpa ada salah tulis sedikitpun. 

Night job saya seperti pelarian dari keseharian yang saya sukai namun, seperti teori law of deminishing return, kalau sudah sampai titik jenuh, hasilnya akan tidak menyenangkan. Bekerja tanpa harus melihat layar komputer dan bercengkrama dengan yang namanya autocad 4 jam dalam sehari, rasanya luar biasa. Apalagi ditambah fakta bahwa saya tidak perlu repot-repot baca koran esok paginya untuk tahu berita apa yang lagi hot saat ini.

Saya suka baca koran, headline-nya saja.

Saya suka baca berita-berita di halaman pertama, tapi kemudian sebal ketika berita tersebut terputus dan berlanjut di halaman 14.

Saya tidak pernah sama sekali baca rubrik opini sebelum ini.

Saya baru tahu kalau perekonomian Indonesia lagi bagus-bagusnya dan masuk ke dalam daftar 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia, meskipun saya sebenarnya tidak betul-betul mengerti maksudnya perekonomian terbesar itu apa.

Saya baru benar-benar baca tentang Tour de France dan akan, paling tidak sekali dalam hidup saya, menonton dan mengikuti Tour de France meskipun cuma dari TV saja.

Dan malam ini, akan menjadi malam terakhir saya:

  • menyeberangi tiga kota tengah malam: Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan.
  • merasa kagum terhadap Jakarta yang gak ada matinya. Masih padat jam 11 malam di Semanggi.
  • deg-degan setiap kali berhenti di lampu merah karena ingat cerita Kapak Merah atau tiba-tiba didatangi pengamen anak-anak punk dengan mata sayu seperti sedang fly.
  • selalu tergoda mampir seven/eleven untuk makan hot dog tengah malam.
  • merinding sendiri setiap kali lewat lokasi kejadian kecelakaan yang menewaskan dua anak sma di daerah Pejaten.
  • menelepon ke rumah membangunkan Bapak/Ibu saya untuk membukakan pintu karena kunci saya ketinggalan.

Dan seperti cerita dalam sebuah buku, chapter yang satu berlanjut dengan chapter yang lain. Chapter yang ini saya sudahi dulu, istirahat sejenak, dan akan lanjut ke chapter berikutnya dua minggu yang akan datang.

Saya percaya, selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari apapun yang saya lakukan. Maka, ketika saya kembali diserang wabah plin-plan dan seorang teman meyakinkan:

“agree..justru bagus jadi lo tau yg mana yg more suitable buat lo karena lo udh nyobain 2-2nya”

saya semakin yakin untuk jalani saja dan ber-positive thinking. Selalu.


happy holiday dear friends.. :)