menulis
seminggu ini saya menulis. tidak bisa dibilang menulis juga sebenarnya, karena yang saya tulis adalah sebuah formulir beasiswa yang dari sekian banyak kolomnya untuk diisi bagi yang mau research, saya memilih tidak mengisinya dan akhirnya memilih coursework saja. pelarian.
dalam sehari, ternyata saya hanya bisa menjawab satu pertanyaan dari formulir itu, sebuah karangan singkat yang harus padat dan berisi sepanjang maksimal 100 kata. untuk itu pun saya tidak bisa melakukannya sendiri, dibantu suporter terbesar saya, raka. lucu sekali mengingat-ingat apa yang saya tulis minggu ini. setengah bergeser dari yang mau saya tulis menjadi kesimpulan baru yang saya dapat setelah beberapa diskusi.
apa ini ya namanya?
lalu, saya mereview yang saya kerjakan belakang. dua bulan ini saya dekat dengan orang-orang yang menulis. saya membaca rata-rata empat halaman koran dalam satu hari, di penghujung hari ketika badan ini hampir sampai di titik paling lelah. secara tidak sadar, tulisan-tulisan itu masuk ke dalam kepala dan membuat saya, bisa dikatakan, jadi lebih mudah menulis.
saya selalu takut orang tidak suka pada apa yang saya tulis. bukan cuma itu saja, saya malah merasa takut berekspresi karena takut orang jadi tidak suka pada saya yg ekspresif. jadinya beginilah. datar.
dan sekilas saya ingat seorang teman pernah memberitahu saya:
“gw gak tau lo orangnya kaya gimana mel. kyanya lo selalu jadi orang yang diinginkan orang lain terhadap lo. aslinya malah gw gak tau lo kaya apa”
setelah beberapa tahun, ternyata saya (hampir) masih sama.